Komunitas ini dibentuk pada 11 Juni 2015 lalu dengan anggota awal 25 orang. Selain sempat beberapa bulan vakum, komunitas ini awalnya bernama Malang Fortuner Club. Saat ini, anggota komunitas tersebut sebanyak 65 orang. ”Kalau (dihitung) dengan anggota yang tidak aktif, ada 80 orang anggota,” kata Ketua MFC Didik Triwahyono. Anggota yang tidak aktif tersebut, menurut Didik, biasanya berada di luar kota, bahkan luar pulau Jawa.

Sesuai jargonnya, tujuan komunitas ini adalah sebagai wadah untuk bersosialisasi, berbaur, dan membangun persaudaraan. ”Kami ingin bisa guyub rukun bersama dalam wadah komunitas ini,” kata pria 45 tahun itu. Dari yang bisa dicapai dalam komunitas ini, nantinya bisa ditebarkan dalam kehidupan sosial. General Manager Honda Eka Jaya Motor Kota Batu ini menyampaikan, aneka macam sifat ini dibangun di tengah anggota komunitas, sehingga semuanya saling menghargai dan menghormati.

Kegiatan komunitas ini tidak hanya touring, tapi juga ada bakti sosial (baksos). Biasanya, mereka baksos di panti asuhan. ”Ada baksos setiap touring rutin kami lakukan. Semampu kami. Biasanya, kami mencari panti asuhan yang tempatnya bakal kami lewati saat touring,” jelas Didik. Dengan demikian, karena setiap bulan hampir ada touring, maka hampir setiap bulan juga ada baksos.

Dalam setiap menjelajah, safety riding juga menjadi hal utama yang dijunjung tinggi oleh MFC. ”Itu pasti. Kami ini membawa kebo besar dan panjang (Fortuner). Jadi, keamanan itu menjadi yang utama saat touring,” kata Didik.

Menariknya, ada satu prinsip yang tidak boleh dilanggar anggota komunitas. Yakni, menyalip anggota yang lain. Saat touring, biasanya setiap mobil diberi satu nomor lambung. Anggota komunitas melaju berurutan sesuai dengan nomor lambung tersebut. ”Intinya, kami ingin tetap memberikan kenyamanan bagi para pengguna jalan yang lain. Kalau kami disalip, ya sudah, tidak apa-apa. Dan semua (anggota) harus tetap berjalan sesuai urutan nomor lambung,” terang Didik.

Setiap touring pasti ada dua polisi patwal yang membawa sepeda motor dan satu mobil .”Nah, kalau kami disalip, lalu yang menyalip itu ada di tengah rombongan kami, kami hanya bilang pada patwal. Nanti, mereka yang akan menangani,” jelas dia.

MFC juga menjaga kecepatan saat di jalan raya. Misalnya, jika di jalanan kota, biasanya kecepatan mereka antara 40 kilometer hingga 50 kilometer per jam. Namun, saat mereka berada di jalanan tol, kecepatannya bisa tembus 80 kilometer hingga 100 kilometer per jam. ”Namun, kadang juga tergantung patwal, karena mereka yang mencari jalan,” jelas Didik.

MFC tidak hanya touring di Malang Raya. Mereka juga sudah pernah touring hingga Jogjakarta. Rencananya, MFC juga akan touring ke Bali.

Setidaknya, ada tiga macam jarak tempuh touring di komunitas ini. Pertama, touring jarak pendek, yakni touring di kawasan Malang Raya. Kedua, touring jarak menengah, yakni di luar Malang, tapi masih di dalam Jawa Timur. Dan yang ketiga adalah jarak panjang, yakni touring antarprovinsi.

Nah, saat touring, ada aturan wajib yang tidak bisa ditolak. Yakni, mengajak anggota keluarga. ”Itu wajib, untuk menghindari fitnah,” kata Didik lantas tertawa.

Sementara itu, Wakil Bupati Malang Sanusi juga kepincut dengan kegiatan komunitas ini. Karenanya, terhitung sudah empat bulan ini Sanusi bergabung dengan MFC. Dia senang, karena komunitas ini menggabungkan dua kegiatan sekaligus. Yakni, rekreasi dengan keluarga, serta melakukan bakti sosial.

”Sejak kuliah saya sudah nyopir, nganter pepaya dan sapi ke Surabaya, Solo, dan Semarang. Bahkan, kalau telat kuliah, saya parkir truk saya di kampus. Dan lama-lama dimarahi dosen juga,” kenang alumni UIN Malang ini lantas tertawa.

Pewarta : Aris Dwi
Penyunting : Irham Thoriq
Copy Editor : Arief Rohman
Fotografer : MFC