MALANG KOTA – Anggapan miring seputar dunia tarot coba ditepis oleh Komunitas Malang Tarot. Mereka berusaha membuktikan bahwa tarot tidak ada hubungannya dengan hal mistis.

Pendiri Komunitas Malang Tarot, Lutfi Firmansyah mengatakan, tarot bekerja dari sisi psikologis dan intuisi. “Intuisi bisa disebut dengan indra keenam, kepekaan atau mata batin. Disinilah transfer data antara klien dan pembaca kartu tarot atau disebut dengan reader terjadi,” jelasnya.

Lutfi menjabarkan, tarot terdiri dari 78 kartu yang bisa membaca problema kesehatan, asmara, karir dan keluarga.

“Tarot barangkali masih dianggap mistis oleh para kaum religius, namun kenyatannya kaum religius dianggap memiliki kepekaan yang tinggi dibanding orang awam,” ucap Lutfi.

Pembaca kartu tarot memerlukan latihan dan kestabilan emosi. Namun tidak semua orang bisa menjadi pembaca tarot. “Hasil pembacaan tarot dari reader yang sedang kalut atau labil hasilnya tidak akan akurat,” terang Lutfi.

Komunitas Malang Tarot memiliki cara unik untuk melatih siswanya.

“Siswa diberi sejenis buku absen untuk mencatat daftar klien mereka. Didalam buku absen itu nanti ditulis data pribadi klien, apa kasusnya dan bagaimana solusinya. Semakin puas dan semakin minimalnya komplain klien maka akan menjadi poin tersendiri bagi siswa.” tutur Lutfi.

Untuk mencegah kecurangan siswa, Lutfi meajibkan siswanya untuk merekam setiap proses konsultasi.

Terkait jenis, Lutfi menjelaskan bahwa tarot memiliki banyak desain dan jenis. “Ada kartu oracle, ada ceki yang biasa digunakan dalam ilmu lintrik,” tutur pria asal Madura ini.

Disamping itu, Lutfi mengaku senang bahwa banyak dari kalangan pelajar SMA yang menggunakan media tarot sebagai referensi pemilihan jurusan.

“Rencananya setelah lebaran akan mengadakan live show tarot jalanan dimana kami akan memilih secara random para penonton. Lalu dengan media sentuhan, kami akan mencoba melukis desain tarot sesuai dinamika kepribadiannya,” tutup Lutfi.

Pewarta: Desak Putu
Penyunting: Lizya Oktavia
Foto: Desak Putu