Senja menyala membakar cakrawala. Sinarnya terang dan menusuk-nusuk mata yang memandangi. Kali ini, setelah hujan tidak menjamah tanah Kabupaten Malang beberapa malam, udara terasa pengap dan suhu naik puluhan derajat. Lelaki itu mencopot topi bulatnya, lalu menggunakan topi lusuh itu untuk mengipasi wajah dan tubuh, walau harapan untuk menyirnakan panas dan lelah itu sudah menguap dengan berjalannya detik-detik. Sorot mata tua itu mulai kosong. Terawangannya hampa. Pikirannya termaktub pada aduan perempuan berbaju daster lusuh yang warnanya pudar dan dihiasi banyak jahitan tangan bekas koyak—istrinya, Bu Supini.

***

Pak, uripe awak e dewe ki piye? Retno mene kudu mbayar es-pe-pe rongatus ewu. Durung berase entek kari nggo engko bengi,” Mata perempuan seumurannya itu sayu dan penuh pasrah, memandang ke awang-awang terbuka.

Yo mugo-mugo ono rejeki, Bukne,”

Perbincangan singkat itu terjadi tadi subuh. Lalu, ia segera menghabiskan kopi di mugnya yang berwarna hijau—entah berkerak atau memang catnya memudar—bangkit dan berjalan keluar rumah. Ia menggerayangi ontel butut yang di bagian belakangnya sengaja ditambah anyaman bambu sebagai wadah tape singkong buatannya.

Ia teringat, pekerjaan ini pula yang dulu dilakukan ayahnya untuk menghidupi ibu dan kelima adiknya. Adik-adiknya kini telah berumah tangga semua. Walau dengan keadaan ekonomi dan taraf hidup yang hampir sama, atau malah lebih berkekurangan. Dua adik perempuannya bekerja menjadi pembuat sapu ijuk dan yang lain menjadi buruh tani. Hanya dia yang meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai penjual tape singkong dengan modal sepetak tanah di samping rumah yang ditanami singkong. Ya, singkong atau ketela pohon adalah tanaman yang mudah hidup dan tidak memerlukan perawatan khusus. Batang singkong yang sudah dipanen atau diambil singkongnya, dipotong berukuran lima belas senti dan ditanam lagi. Beberapa bulan kemudian bisa dipanen. Begitu seterusnya. Untuk pembuatan tape, raginya sendiri ia beli setiap sebulan sekali.

Setelah menadahkan tangan untuk berdoa sekenanya, ia mulai menuntun si ontel tua dan menawarkan dagangannya, menyusuri jalan-jalan kecil di daerah Kabupaten Malang.

”Pe, tape, pe, tape,”

***

Matanya berkaca-kaca, pertanyaan demi pertanyaan menyembul dari relung hati. Bagaimana jika ia tidak bisa mendapatkan rezeki yang ia harapkan? Bagaimana nasib keluarganya? Bagaimana nasip Retno yang harus segera membayar SPP agar bisa ikut ujian kenaikan kelas?

Terpikir pula untuk kembali mendatangi Pak Munip—pemilik warung kelontong di daerahnya, tapi ia malu. Utangnya sudah menggunung dan belum sekalipun ia cicil. Pak Munip adalah satu-satunya pedagang yang mau membantunya. Itu juga telah memberi banyak sekali, dari baju bekas untuk keluarganya, peralatan sekolah bekas untuk Retno yang masuk SMA, sampai beberapa kali ia meminta beras untuk makan. Mukanya sudah tidak mampu lagi menahan malu untuk meminjam uang sekadar untuk membeli beras satu atau dua kilo.

”Ya Allah, paringono pitulungan,” rengeknya dalam batin.

Azan magrib memaksanya kembali sadar. Ia segera berdiri dan kembali melajukan sepedanya untuk menjemput rezeki yang sedang menunggunya entah di mana. Sampai di sebuah pelataran masjid di daerah pelosok Ngantang, ia hentikan ontelnya. Keringat yang mengucur ia seka dengan handuk kumal setelah memarkirkan ontel butut di pojok dekat pohon. Ia segera mengambil kantung keresek. Sengaja ia letakkan di anyaman bambu yang berbeda dengan wadah tape.

Lelaki itu berjalan memasuki area masjid dan menuju kamar mandi. Beberapa kali terdengar guyuran air yang melumat habis segala penat dan pikirannya. Ah, seandainya nikmat Tuhan mencukupkan kehidupannya, pasti… Pikiran ngawur yang bersarang di otaknya itu segera ia usir jauh-jauh.

Ia teringat kata seorang ustad di masjid yang pernah ia singgahi untuk mandi dan salat Magrib. Bahwa berkata ”seandainya” sama dengan menyesali, dan menyesali itu mengurangi syukur. Setelah mengambil wudu, ia berjalan ke arah ontelnya. Kaus dan celana yang basah karena keringat telah berganti baju koko warna biru yang bisa dibilang tidak layak pakai. Begitupun sarung kotak-kotak yang telah koyak di sana-sini.

”Pak Ayyub,” panggil sebuah suara dari pelataran masjid. Lelaki itu segera berjalan masuk dan menyalami laki-laki yang memanggilnya tadi.

Nggih, Kang Yusuf,”

Kang Yusuf segera membimbing pundak Pak Ayyub untuk memasuki masjid dan menyerukan iqamah. Setelah itu, keduanya melaksanakan ibadah salat Magrib dengan Pak Ayyub sebagai imam. Masjid di pelosok Ngantang yang sepi dan tidak memiliki jamaah ini telah memiliki dua jamaah yang selalu menyempatkan diri untuk memakmurkannya.

Selesai mengucap salam, Pak Ayyub segera tenggelam dalam rintihannya kepada Sang Khalik. Ia merasa sangat membutuhkan pertolongan Tuhannya. Ia merasa sudah terjepit di dunia ini, terjepit masalah ekonomi. Baginya, mencari uang dua ratus ribu untuk membayar SPP Retno adalah hal yang tidak mungkin.

Sangat tidak mungkin akan ia dapatkan malam ini juga. Wong penghasilannya dari berjualan tape sedari subuh sampai pulang ke rumah jam sembilan malam saja maksimal hanya dua puluh ribu. Itu pun habis untuk membeli jatah beras hari esok. Dan untuk lauknya, istri Pak Ayyub selalu punya banyak cara dari memetik beberapa lembar daun singkong. Entah itu hanya direbus, atau kalau ada sedikit uang, dimasak pakai bawang dan cabai.

Air matanya menetes ke sajadah masjid. Beberapa kali isaknya membuat Kang Yusuf memandang ke arah  Pak Ayyub.

Selesai melaksanakan salat disertai zikir dan wiridnya, Pak Ayyub mengambil bungkusan berisi pakaian yang lusuh berbau keringat dan mengenakannya kembali untuk berjuang mencari rupiah yang sejak subuh belum ia dapatkan. Dia melongok ke arah tape yang tersusun rapi di keranjang bambu. Belum satu biji pun terjual.

Sambil berjalan menuntun ontelnya, ia memiliki bekal keyakinan kalau Tuhan tidak akan menguji hambanya lebih dari kemampuannya.

 

Oleh: Gita Marantika – Pustakawan di SMPN 1 Ngantang, Kabupaten Malang.