Taman Puisi Fajrus Shiddiq

Diantara lajur-lajur sepi aku laju sendiri
Berteman angin sangu cemas
Langkah demi langkah napak teka-teki
Sementara wajah zaman terus berhias

Bahasa ambigu meluap-luap dinding kamar
Ratapi hari esok di awang samar
Saban hari sebagai apa aku pura-pura nyamar
Jadi pemain sandiwara setiap lembar

Hidup itu apa?
Hanya sekedar ingin tahu, bukan!
Dari zat dan nous disebut tuhan
Dari atom dan ruang hampa;
Kekal atau tidak, sufi tak pernah mengerti apa
Sebab selama kita ada
Kematian tak bersama
Ketika ia datang
Kita sudah tak lagi ada

Hidup itu apa, bukan?
Setiap dada lahir dari sepi
kembali pada sepi

Malang, 18 Agustus 2016