Anggota Komunitas DNE makan bersama dengan anak bimbingan mereka.

Biar ora dolen ae (biar tidak main-main terus). Kata tersebut merupakan spirit berdirinya DNE (Dulur Never End) Community. Pada 4 Januari 2006, sejumlah siswa alumnus ektsrakulikuler Pramuka Pandhu Grafika SMKN 4 Kota Malang menggagas DNE Community.

Meski berawal dari SMKN 4 Kota Malang, tapi kini anggotanya sekitar 65 orang berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada yang mahasiswa Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Ma Chung, dan ada masyarakat biasa.

Awal berdiri, komunitas ini beranggotakan 30 orang. Sesuai tujuan awal, sebagai anak muda, mereka tidak ingin hanya main-main saja. Mereka ingin berbuat sesuatu yang dapat membantu orang lain. Mereka ingin menjadi api yang menyala. Memberi manfaat.

Pada tahun 2007, mereka melaksanakan bakti sosial pertama ke Panti Asuhan Al-Ikhlas Pakis, Kabupaten Malang. Dalam setahun, DNE Community datang dua kali ke panti asuhan ini. Yang mereka kirim uang dan pakaian. Aktivitas mereka dalam bakti sosial terus berlanjut hingga tahun 2012.

Nah, pada tahun 2013, DNE Community mendadak vakum. Penyebabnya karena banyak anggota senior yang menikah dan bekerja. Baru pada 2014, ketika era media sosial seperti BBM (BlackBerry Messenger) dan WA (WhatsApp) kian booming, anggota DNE Community berkumpul lagi melalui grup media sosial. Hingga pada tahun 2015, anggota DNE Community sepakat untuk bertemu dan melakukan survei.

Setelah survei dilakukan, DNE Community menentukan akan melakukan bakti sosial kepada Ratemat Aboe atau Pak Aboe. Pria yang tinggal di Jalan Tanjung Putra Yuda 1, Kelurahan Tanjungrejo, Sukun ini adalah tukang becak yang mengajar anak-anak jalanan dan pengemis.

Nama Pak Aboe belakangan menasional setelah diberitakan Jawa Pos Radar Malang. Setelah itu, Pak Aboe pernah diberitakan media nasional dan masuk acara Hitam Putih di Trans 7. ”Kami melihat kondisi rumah belajar Pak Aboe yang seperti itu, lalu berencana memberikan bantuan di sana,” kata Ketua DNE Community Gabriel Irianto.

Mulai Januari 2016 hingga kini, DNE Community membantu Pak Aboe dengan pengajaran kepada anak-anak setiap minggu. Mereka juga memberikan donasi untuk penunjang pembelajaran anak-anak di sana berupa buku dan alat tulis.

DNE Community telah membuka dua kali open volunteer melalui media sosial pada bulan Maret dan Mei 2016. Dari volunter ini terjaring 62 anggota komunitas baru. ”Awalnya ya ngajak temen dekat anggota dulu, tetangga, atau teman kampus. Biar komunitas ini jadi luas dan nggak melulu dari grafika saja,” kata pria yang akrab disapa Rian ini.

Awal mulanya ketika membantu Pak Aboe, yang mereka ajari ada sepuluh anak. Ketika itu, DNE Community masih kebingungan dengan pembagian kelas. Selain itu, minimnya buku juga menjadi kendala.

Setelah melewati satu bulan, DNE Community mulai memisahkan anak-anak sesuai kelompok kelasnya masing-masing. Pembagian kelasnya terdiri dari kelas 0 untuk anak yang belum sekolah dan TK, kelas 1-3 SD, dan kelas 4-6 SD.

Setelah proses pembelajaran mulai diberlakukan dengan pembagian kelas, jumlah anak yang belajar di rumah Pak Aboe bertambah menjadi 12 anak pada Februari 2016. ”Metode pembagian kelas itu menurut kami sudah pas, dan metode itu tetap kami gunakan hingga sekarang,” pungkasnya.

Pewarta: Daviq Umar
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono