Kecintaan Menulis Sastra Ratna Indraswari Ibrahim

Pada tahun 2005, Ratna Indraswari Ibrahim memperoleh anugerah kesetiaan berkarya dari sebuah media nasional. Penghargaan ini dapat saya perkirakan sebelumnya. Karena, tokoh-tokoh yang memperoleh sebelumnya tidak jauh beda prestasinya dibanding Ratna. Dia memiliki keajekan menulis yang dirintisnya sejak puluhan tahun sebelumnya.

Dia mengaku, sudah memiliki hobi membaca dan menulis sejak usia delapan tahun. Dia lahir pada 24 April 1949. Artinya, sebelum tahun 1960, Ratna sudah bergelut dengan dunia literasi. Pengakuan itu dapat dipercaya, karena dia memiliki lingkungan keluarga terpelajar. Ayahnya mewarisi Ratna buku-buku berkualitas dan tidak sedikit yang berbahasa Belanda.

Awalnya, Ratna menulis catatan-catatan pendek dalam bentuk puisi. Satu puisi yang pernah dipamerkan kepada saya, ditulis pada tahun 1960, mungkin itu karya pertamanya, berjudul: ”Mengenang”. Puisi itu ditujukan kepada kerabatnya yang dia panggil Om Yunan: Kepada cermin/Aku enggan/Berbagi//.

Puisi yang sederhana, lugas, liris, dan berkarakter. Penulisan karya puisi yang pendek, saya menduga bukan karena usianya yang belia, tetapi dia sudah membaca karya-karya dunia, seperti haiku–puisi Jepang. Ketika kami membicarakan puisi dengannya, dia merasa lebih menikmati dan menangkap pesan dari puisi-puisi sederhana. ”Saya tidak suka puisi-puisi yang rumit. Tapi, memang mencipta puisi itu tidak mudah, kita harus memeras sari pati kehidupan,” katanya.

Pandangan-pandangan ”kecil” semacam itu yang kemudian, di fase berikutnya memengaruhi karya-karya sastranya.

Dari karya-karya yang pernah ditunjukkan kepada saya, pada tahun 70-an, penulisan puisi masih dilakukan Ratna. Ada puluhan puisi dan pendek-pendek. Namun, pada fase ini, Ratna mulai merambah untuk menulis prosa. Tepatnya, cerita pendek. Terselip dari tumpukan karyanya, cerpen berjudul ”Jam” dan ”Catatan Harian” menjadi tonggak penulisan cerpennya yang paling awal. Pada manuskrip cerpen ”Jam”, tertulis cerpen tersebut dipublikasikan Majalah Midi No. 72 dengan honor Rp 200. Saya belum pernah tahu majalah yang dimaksud.

Cerpen ”Jam” mengangkat tema eksistensi manusia dalam membangun relasi. Dua orang remaja, Indra dan Reny bubar jalinan cintanya karena persoalan disiplin waktu. Saya tidak bermaksud mengapresiasi karya Ratna di sini.

Tetapi, ingin melihat tematik yang diangkat Ratna sejak mencipta karya cerpen.
Tema-tema kemanusiaan itu yang kemudian berkembang dan menguat pada karya cerpen Ratna. Sampai saya berkunjung ke rumahnya, berteman, dan ngangsu kaweruh kepadanya pada tahun 1986. Tema kemanusiaan itu telah mengental.

Hikmah yang saya tangkap dalam menelusuri karya-karya Ratna dan sekilas-sekilas obrolan dengannya adalah, pandangan Ratna terhadap persoalan yang akan dituangkan dalam karyanya telah mencapai kematangan.

Kematangan berkarya Ratna dengan menuangkan tema-tema kemanusiaan, bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Proses pematangan itu dia lakukan dengan memperoleh masukan dari berbagai sumber. Sumber utama Ratna adalah deretan buku yang ada di rak di kamarnya, di samping kerabat dan teman-teman yang datang kepadanya.

Bahwa, ide sebuah karya yang dia ciptakan tak mungkin tertangkap begitu saja. Meskipun ibaratnya sudah ada di depan mata, inspirasi terhadap sumber-sumber ide harus dibangun. Kuatnya daya tangkap inspirasi itu ketika ”wadah” untuk menampung inspirasi itu tidak kokoh. Proses penguatan wadah itu tidak lain berawal dari kecintaan (kesetiaan) pada dunia tulis-menulis.

Karena kecintaan pada kreativitas menulis itu, Ratna akan melakukan berbagai hal untuk mencipta karya tulisnya. Kecintaan itu yang tak akan memberikan ruang berpikir untung rugi. Dia akan mendiskusikan berbagai hal, terutama tentang nilai-nilai kemanusiaan, kepada siapa pun, terutama dengan teman-teman yang datang ke rumahnya. Bahkan, dia akan membeli setumpuk buku untuk itu. Ibaratnya, seperti remaja yang sedang jatuh cinta, dia akan melakukan apa saja demi perjumpaan dengan kekasihnya.

Kecintaan itu yang kemudian memberikan jawaban kepada saya atas keheranan, kenapa orang yang ”diberi” kondisi difabel dapat melakukan proses penciptaan karya sastra yang luar biasa.

Kecintaan terhadap penulisan sastra itu yang menyebabkan ide yang dituangkan dalam cerpen dan novelnya, mengalir seperti tak terbendung. Ratna telah membangun fundamen penulisan sastra secara kokoh.

Fundamen kepenulisannya itu juga tidak tergoyahkan ketika semenjak tahun 90-an, dia banyak bersinggungan dengan aktivis politik, lingkungan, sosial, dan gender. Ratna makin menghayati diskusinya, bahkan ikut terjun dalam gerakan-gerakan moral. Namun, semua itu juga bermuara pada karya tulis sastra. Terbukti dengan munculnya novel-novel yang kerap diperbincangkan khalayak, seperti Lemah Tanjung, 1998, atau Pecinan di Kota Kecil.

Ratna terus mengalir menulis karya sastra. Bahkan, lima belas hari sebelum dia meninggal, 28 Maret 2011, masih sempat menyelesaikan dua cerpen sekaligus, berjudul ”Buruh Migran” dan ”Tiga Peri”.

Lantas, apa hanya itu modal yang dimiliki Ratna untuk berproses mencipta karya sastra? Secara teknis penulisan, dia telah ditempa sejak lama. Keluarganya, yang memiliki tradisi literasi yang kuat, memberikan dasar. Pada tahun 70-an, Ratna juga membangun hubungan kreatif dengan seniman dan sastrawan nasional, seperti Goenawan Muhammad, Danarto, Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Najib, maupun Agus Dermawan T.

Saat itu, karya Ratna kerap dicoret-coret, dipotong, dan dibolak-balik alurnya. Sebagai pengarang, mungkin dia merasa tidak enak, tetapi Ratna dapat menerimanya sebagai proses belajar untuk mencipta karya sastra.

Saat sudah mulai mapan, dia juga tidak ragu minta pendapat teman-temannya atas karya ciptaannya. Dia merasa beruntung punya teman-teman yang mau berbagi, seperti Djoko Sarjono, Budi Darma, Rudi Da’uk, atau teman-teman muda yang kritis.

Kepada saya, dia juga sering minta pendapat. Kerap kali, setelah membaca sekilas, saya katakan: jelek. Reaksinya tampak masygul, dengan lirikan matanya yang menancap. Saya tertawa-tawa saja, dan saya tinggal pergi.

Tetapi, esoknya, ketika saya datang lagi, Ratna masih bertanya: bagian mana cerita itu yang jelek. Saya, yang masih tidak tahu apa-apa perihal sastra, sekuat daya memberikan pendapat.
Bagi saya, sekaliber Ratna, masih mau dikritik, mendengarkan pendapat orang lain. Dia bukanlah orang yang antikritik.

Akhir kata, mudah-mudahan, rasan-rasan saya itu menjadi doa yang baik untuk beliau. Ilmu menulis yang pernah diberikan kepada teman-teman, termasuk kepada saya yang bersedia diajak ngobrol sampai jam satu malam, menjadi bekal surgawi.*

Oleh: Iman Suwongso – Penulis cerpen yang belajar menulis kepada Ratna Indraswari Ibrahim.