Komunitas Akar Tuli

Komunitas Akar Tuli, kependekan dari Aksi Arek Tuli berawal dari hubungan pertemanan antara mahasiswa disabilitas pendengaran dan volunternya di Universitas Brawijaya (UB). Awalnya hanya sekadar nimbrung bareng segelintir orang pada 2012.

Tapi kemudian, dari nimbrung bareng itu muncul ’kegelisahan-kegelisahan’. Mereka merasa, anak-anak disabilitas pendengaran selama ini kurang terwadahi. Bahkan, tak sedikit yang masih mendapatkan diskriminasi dalam banyak hal.

Diskiriminasi yang paling sering mereka dapatkan adalah terkait penyebutan identitas sosial. Wakil Ketua Komunitas Akar Tuli Yoga Dirgantara mengatakan, sebutan tunarungu sudah tak lagi tepat.

Sebab, tunarungu bisa diartikan sebagai orang yang punya sakit di telinga. ”Padahal, tak ada rasa sakit di telinga kami,” kata Yoga, dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh volunter.

Penyandang disabilitas pendengaran malah lebih suka disebut Tuli. ”Tapi jangan sebut kami tuli dengan huruf t kecil. Itu (juga) kasar bagi kami,” kata Yoga.

Diskriminasi lainnya adalah bahwa masih ada masyarakat yang menganggap para penyandang disabilitas pendengaran itu antisosial. Enggan membaur, enggan bergaul.

Yoga mengakui bila selama ini memang masih ada penyandang disabilitas pendengaran yang sulit membaur. Tapi itu bukan karena mereka sengaja dan senang hati melakukannya.

Penyandang disabilitas pendengaran itu sulit berkomunikasi dengan orang yang tidak memahami bahasa isyarat. Karena alasan itulah, Komunitas Akar Tuli akhirnya dibentuk pada 9 September 2013.

Komunitas Akar Tuli menjadi jembatan antara penyandang disabilitas pendengaran dengan masyarakat umum. Komunitas Akar Tuli dengan senang hati membuka pintu bagi mereka yang ingin belajar bahasa isyarat.

Semakin banyak orang ’normal’ yang memahami bahasa isyarat, maka para penyandang disabilitas pendengaran makin diuntungkan. Sebab, makin banyak pula orang yang bisa mereka ajak berkomunikasi.

Kemudian, komunitas ini juga menjadi wadah bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi dirinya. Tak hanya itu, Komunitas Akar Tuli juga berperan sebagai penyambung lidah aspirasi kaum disabilitas pendengaran.

Sejauh ini, Komunitas Akar Tuli sudah merangkul 35 penyandang disabilitas pendengaran dan 19 volunter, baik dari kampus maupun umum.

Pewarta: Lizya Oktavia
Penyunting: Indra Mufarendra
Foto: Bayu Eka